Bio Growth Bag: Packaging Ramah Lingkungan Berbasis Embedded Seed sebagai Inovasi Biofarming guna Menunjang SDGs

Indonesia menduduki peringkat 4 penduduk terpadat di dunia. Padatnya penduduk Indonesia mengakibatkan berbagai masalah terutama masalah sampah khususnya sampah plastik. Disamping permasalahan sampah plastik Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan di sektor pertanian dimana terjadi penuaan tenaga kerja yang tidak diimbangi dengan regenerasi kaum muda . pada tahun 2023 jumlah petani milenial di Indonesia yang berumur 19-35 tahun pada tahun 2023 tercatat sebanyak 6.183.009 orang atau sekitar 21,93% dari jumlah petani di Indonesia. Disamping permasalahan tersebut Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan limbah organik. Salah satu Kabupaten di Indonesia yang memiliki permasalahan limbah organik yaitu Kabupaten Jepara. Jepara merupakan Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan keindahan alamnya berupa pantai pasir putih (Sianipar, 2025). Banyak dari masyarakat Jepara yang berprofesi sebagai Nelayan. Tercatat ada 8.031 orang yang berprofesi sebagai Nelayan (BPS, 2025). Banyaknya masyarakat yang berprofesi sebagai Nelayan menyebabkan jumlah tangkapan ikan yang ada di Jepara melimpah yang menyebabkan jumlah limbah sisik ikan juga melimpah. Selain permasalahan limbah sisik ikan, Jepara juga merupakan Kabupaten yang kaya akan tanaman singkong. Terdapat seluas 63 hektare kebun yang ditanam singkong. Dari permasalahan tersebut peneliti membuat Bio Growth Bag: packaging ramah lingkungan berbasis embedded seed sebagai inovasi biopharming guna menunjang SDGs.yang dapat diaplikasikan langsung ke media tanam apabila sudah tidak digunakan.Setelah itu Bio growth dapat menumbuhkan benih sayuran sesuai dengan benih yang ada di bio seperti benih cabai, kemangi, sawi dll.

Kata kunci: Bio Growth Bag, embedded seed, biopharming

Indonesia merupakan Negara yang memiliki julukan Zamrud Khatulistiwa (Andrie & Novianty, 2021). Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki keindahan dan kekayaan alam yang melimpah dan memukau mata dunia. Dibalik pesona Indonesia jumlah penduduk di Indonesia juga menduduki peringkat ke 4 penduduk terpadat di dunia (Khoirunnisa, 2023). Tercatat menurut BPS (2025) jumlah penduduk Indonesia mencapai angka 284.438,8 juta jiwa. Padatnya penduduk Indonesia mengakibatkan berbagai masalah terutama masalah sampah khususnya sampah plastik. Pada tahun 2024 terdapat limbah sampah plastik sebesar 257.858,21 ton penyumbang limbah sampah (Kementrian Lingkungan Hidup, 2024). Sampah plastik menghabiskan kurang lebih 1.000 tahun untuk bisa terurai dengan baik di alam (Nurrahim, 2023). Disamping permasalahan sampah plastik Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan pada sektor pertanian dimana terjadi penuaan tenaga kerja yang tidak diimbangi dengan regenerasi kaum muda (Sitanggang, dkk. 2025). Menurut data dari Badan Pusat Statistik BPS (2023) jumlah petani milenial di Indonesia yang berumur 19 35 tahun pada tahun 2023 tercatat sebanyak 6.183.009 orang atau sekitar 21,93% dari jumlah petani di Indonesia. Fenomena minimnya minat generasi muda pada sektor pertanian tersebut disebabkan oleh persepsi negatif terhadap pertanian, mahalnya pupuk, urbanisasi dan modernisasi, ketidakpastian ekonomi serta keterbatasan sumber daya (Rozci & Oktaviani, 2023; ). Dampak negatif yang muncul akibat fenomena tersebut ialah krisis bahan pangan di masa mendatang, semakin bergantung pada barang import, serta mengakibatkan lonjakan harga pangan semakin mahal (Matari Argo Indonesia, 2025). Disisi lain Indonesia juga menghadapi permasalahan limbah organik. Salah satu Kabupaten di Indonesia yang memiliki permasalahan limbah organik yaitu Kabupaten Jepara. Jepara merupakan Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan keindahan alamnya berupa pantai pasir putih (Sianipar, 2025). Banyak dari masyarakat Jepara yang berprofesi sebagai Nelayan tercatat ada 8.031 orang yang berprofesi sebagai Nelayan (BPS, 2025). Banyaknya masyarakat yang berprofesi sebagai Nelayan menyebabkan jumlah tangkapan ikan yang ada di Jepara melimpah. Pada tahun2023, produksi ikan segar yang diolah di Jepara tercatat mencapai 19.401.125 kilogram (Jatengprov, 2024). Banyaknya produksi ikan menyebabkan limbah ikan meningkat. Salah satu limbah ikan yaitu sisik ikan. Sisik ikan seringkali menyebabkan pencemaran udara yaitu berupa bau yang tidak sedap. Biasanya sisik ikan hanya dibuang begitu saja tidak dimanfaatkan secara maksmimal. Padahal sisik ikan mengandung kitin dan kitosan yang dapat dimanfaatkan sebagai bioplastik (Ramadhani & Firdausi, 2021). Selain permasalahan limbah sisik ikan, Jepara juga merupakan Kabupaten yang akan tanaman singkong Terdapat seluas 63 hektare kebun yang ditanam singkong. Dan dikelola oleh Perumda Agribisnis Pakis Aji. Kebun tersebut mampu membuahkan hasil panen sebesar 8 ton singkong per satu hektare lahan (Agribisnis Perumda Jepara, 2024). Jumlah panen tanaman singkong yang cukup banyak mengakibatkan jumlah limbah kulit singkong juga banyak. Limbah kulit singkong mengandung kandungan pati sebesar 90% dan selulosa sebesar 38,40% pat yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan kandungan pati pada umbi-umbian lainnya (Dewi, dkk., 2023;Dewi, dkk., 2025) .Kandungan pati dan selulosa pada kulit singkong dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan packaging bioplastik dan mudah terurai (Husna, dkk., 2024). Dari keempat permasalahan tersebut perlu adanya inovasi packaging ramah lingkungan sekaligus mendukung prinsip biofarming yang sejalan dengan konsep mandiri pangan keluarga. Hal tersebut dapat ditekan dengan mengembangkan packaging ramah yang dapat terurai secara alami oleh lingkungan yang berbahan dasar kulit singkong dan sisik ikan yang dapat terurai secara alami oleh lingkungan serta dilengkapi dengan Embedded Seed yang mampu menumbuhkan tanaman secara langsung dengan ditanam pada media tanam ketika packaging sudah tidak digunakan. Inovasi packaging ramah lingkungan ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi kaum muda untuk kembali pada sektor pertanian dengan adanya suatu nilai praktis dalam penanaman dan mendukung mandiri pangan keluarga yang mampu menekan biaya pengeluaran. Gagasan tersebut menjadi solusi inovatif yang mampu menjawab empat tantangan sekaligus yakni: sampah plastik, minimnya minat kaum muda pada sektor pertanian, limbah kulit singkong dan limbah sisik ikan. Berdasarkan analisis tersebut peneliti membuat “Bio Growth Bag: Packaging Ramah Lingkungan berbasis Embedded Seed sebagai Inovasi Biofarming guna Menunjang SDGs”. 

1. Ramah Lingkungan. Bio Growth Bag dapat terurai secara alami dengan kurun waktu singkat dalam tanah karena menggunakan perpaduan antara sisik ikan dan kulit singkong.Hal tersebut dapat memperbaiki dan menjaga ekosistem tanah maupun air.

2. Bio Growth Bag mendukung mandiri pangan rumah tangga dengan prinsip biofarming Bio Gowth Bag dilengkapi dengan embedded seed yang dapat diaplikasikan langsung pada media tanam. Kemudian bio growth bag dapat menumbuhkan benih sayuran akan tumbuh sekitar 2-6 minggu. Hal tersebut sejalan dengan prinsip biofarming dengan memanfaatkan bahan alami demi mencapai keberlanjutan dengan biaya yang terjangkau. Selain itu Bio Growth Bag menggabungkan prinsip ekologi untuk memproduksi pangan alami sehingga menjadikan konsep bio growth bag fleksibel dan relevan untuk ketahanan pangan.

3. Bio Growth Bag harganya lebih terjangkau daripada Packaging bioplastik lainnya. Dengan mempertimbangkan fungsi, Bio Growth Bag mampu menghadirkan dua fungsi sekaligus secara berkelanjutan serta harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat.

4. Tampilan Bio Growth Bag menarik. Dengan inovasi pada permukaan produk berupa benih sayuran tampilan Bio Growth Bag memiliki nilai estetika tersendiri dengan motif yang berasal dari benih sayuran.

5. Bio Growth Bag memiliki fungsi ganda yaitu sebagai packaging ramah lingkungan dan sebagai media penanaman benih sayuran. Pengguna Bio Growth Bag tidak akan merasa dirugikan karena fungsi secara berkelanjutan ada pada produk ini tidak hanya teruarai secara hayati tetapi juga dapat menghasilkan tanaman bagi pengguna.

Nama : Muthia Izza Azzahra
Alamat : Jl. Pegadaian Mayong, gleget, RT.05/RW.09, Mayong Lor, Kec. Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59465.
No. Telepon : 089685523900