Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu daerah penghasil kakao terbesar di Jawa Tengah. Data dari Dinas Pertanian Wonogiri menyebutkan bahwa produksi biji kakao pada tahun 2024 mencapai ±425,92 ton. Sayangnya, sebagian besar petani hanya menjual biji kakao mentah kepada tengkulak dengan harga yang bergantung pasar, sehingga nilai tambah komoditas ini belum optimal. Melihat peluang tersebut, Marto Chocolate hadir dengan inovasi mengolah biji kakao lokal menjadi berbagai produk siap konsumsi seperti cokelat batang, ampyang cokelat, dan minuman cokelat.
Tujuan utama dari inovasi ini adalah meningkatkan nilai jual kakao, memberdayakan petani lokal, membangun identitas cokelat khas Wonogiri, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru. Manfaat yang dihasilkan tidak hanya bagi petani dan pelaku usaha, tetapi juga bagi konsumen yang mendapatkan produk sehat berkualitas, serta daerah yang memperoleh peningkatan perekonomian melalui hilirisasi.
Keunggulan Marto Chocolate terletak pada penggunaan bahan baku lokal, produk artisan yang khas, nilai ekonomi lebih tinggi dibanding kakao mentah, serta konsep keberlanjutan. Aspek inovasi meliputi pengembangan produk, proses produksi modern dan higienis, strategi branding, serta kemitraan jangka panjang dengan petani.
Dalam penerapannya, Marto Chocolate membeli biji kakao dari petani Wonogiri, mengolahnya melalui proses fermentasi, sangrai, penggilingan, hingga menghasilkan produk cokelat berkualitas. Produk dikemas dengan desain yang menarik, lalu dipasarkan melalui berbagai media, baik online maupun offline.
Melalui inovasi ini, Marto Chocolate berkomitmen menjadi pionir pengolahan kakao di Kabupaten Wonogiri, mengangkat potensi lokal, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menghadirkan produk cokelat khas daerah yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Kabupaten Wonogiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao terbesar di Jawa Tengah dengan total produksi yang mencapai sekitar 400 ton setiap tahunnya. Potensi ini tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak diperkenalkannya tanaman kakao pada era 1980-an. Pada masa itu, pemerintah melalui program Perkebunan Inti Rakyat (PIR), yang juga mendapat dukungan dari Bank Dunia, mulai mendorong pengembangan komoditas kakao, khususnya di wilayah Sub-DAS Keduwang. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui diversifikasi tanaman perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi.
Seiring berjalannya waktu, pengembangan kakao di Wonogiri semakin meluas dan terkonsentrasi di beberapa kecamatan yang memiliki kondisi geografis dan iklim yang sesuai. Kecamatan-kecamatan seperti Girimarto, Ngadirojo, Jatipurno, Sidoharjo, Jatisrono, Slogohimo, Puhpelem, dan Bulukerto kemudian berkembang menjadi sentra utama produksi kakao. Keberadaan sentra-sentra ini menunjukkan bahwa kakao telah menjadi salah satu komoditas unggulan daerah yang berperan penting dalam mendukung perekonomian masyarakat setempat.
Namun demikian, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan. Hingga saat ini, sebagian besar petani kakao di Wonogiri masih menjual hasil panennya dalam bentuk biji kakao mentah kepada tengkulak. Harga jual yang diterima petani sangat bergantung pada fluktuasi pasar global, sehingga seringkali tidak stabil dan cenderung rendah. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah dari komoditas kakao belum dapat dirasakan secara maksimal oleh petani maupun daerah. Padahal, apabila biji kakao tersebut diolah lebih lanjut menjadi produk olahan, nilai ekonominya dapat meningkat secara signifikan.
Melihat kondisi tersebut, muncul peluang untuk mengembangkan industri pengolahan kakao berbasis lokal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui hadirnya Marto Chocolate, yang berinovasi dalam mengolah biji kakao lokal menjadi berbagai produk siap konsumsi. Produk yang dihasilkan antara lain cokelat batang, ampyang cokelat, serta minuman cokelat. Inovasi ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada komoditas kakao, tetapi juga membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan petani melalui rantai nilai yang lebih panjang.
Selain aspek ekonomi, pengembangan produk cokelat lokal ini juga berkontribusi dalam memperkuat identitas daerah. Wonogiri tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga sebagai produsen cokelat berkualitas dengan ciri khas tersendiri. Dengan demikian, keberadaan Marto Chocolate menjadi salah satu contoh nyata bagaimana potensi lokal dapat diolah secara kreatif dan berkelanjutan untuk mendorong pembangunan ekonomi daerah sekaligus pemberdayaan masyarakat.
1. Berbasis Bahan Baku Lokal
Menggunakan biji kakao asli Wonogiri dengan kualitas yang baik.
2. Produk Artisan
Diolah secara teliti untuk menjaga cita rasa alami kakao.
3. Ciri Khas Lokal
Membawa identitas Wonogiri dalam setiap produk sebagai daya tarik branding.
4. Nilai Ekonomi Lebih Tinggi
Harga jual produk olahan jauh lebih tinggi dibanding biji kakao mentah.
5. Sustainability
Mendukung keberlanjutan pertanian kakao melalui pemberdayaan petani dan pemanfaatan bahan lokal.
| Nama | : | HARIYANTO |
| Alamat | : | Watuleter RT 01 RW 05, Giriwarno, Girimarto, Wonogiri |
| No. Telepon | : | 081369700489 |