Seblak Sehat BOWLAK

ABSTRAK

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang melimpah di Kabupaten Wonogiri, khususnya di Waduk Gajah Mungkur. Namun, tingkat konsumsi ikan nila di masyarakat masih rendah meskipun tinggi dengan kandungan protein dan zat besi yang berpotensi membantu mencegah anemia. Oleh karena itu, diperlukan inovasi produk pangan yang mampu meningkatkan minat konsumsi ikan nila.
Tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan produk inovasi yang diminati pasar berupa BOWLAK, seblak sehat berbahan dasar ikan nila, tepung garut, dan tepung gaplek, sebagai alternatif makanan praktis dan sehat yang dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap junk food.

        Metode penelitian dilakukan dengan mixed method, yaitu penggabungan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan angket kepada masyarakat sekitar dan warga SMA Negeri 2 Wonogiri sebanyak 53 responden dengan hasil yang menunjukkan 92,5% tampilan menarik, 94,3% rasa enak, dan 92,5% aroma sedap. Sedangkan, metode kualitatif dilakukan dengan wawancara untuk mengetahui preferensi dan selera konsumen terhadap produk BOWLAK. 
Hasil penelitian diperoleh bahwa BOWLAK memiliki kandungan gizi berdasarkan uji coba yang kami lakukan di laboratorium penguji BPSMB. Diketahui bahwa kandungan yang terdapat di dalamnya antara lain yaitu protein sebanyak 6,8%, dan karbohidrat sebanyak 13,6%. Manfaat dari inovasi ini antara lain mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama dalam pencegahan anemia, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peluang wirausaha baru.

Kata kunci: Seblak, Inovasi Pangan, Ikan Nila, Gaplek, Tepung Garut, Anemia

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara bahari yang memiliki wilayah perairan yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke. Luas perairan di Indonesia sendiri mencapai 6.400.000 km² dengan panjang garis pantai 108.000 km dan jumlah pulau lebih dari 17.500. Dengan kekayaan alam ini, Indonesia memiliki hasil perikanan yang melimpah dan beragam. Berbagai macam hasil laut turut menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Tidak hanya hasil laut, hasil perikanan air tawarnya pun sangat melimpah. Salah satu hasil perikanan air tawar adalah ikan nila. Ikan nila cukup populer dikalangan warga. Selain karena kandungan proteinnya yang tinggi, ikan nila memiliki banyak keunggulan lain. Seperti yang disampaikan Kordi (2010), pertumbuhan ikan nila termasuk cepat dibandingkan dengan jenis ikan yang lain. Di samping itu, ikan nila mudah beradaptasi dengan berbagai lingkungan, pembudidayaannya juga dinilai tidak sulit. Oleh karena itu, ikan nila adalah salah satu pilihan yang tepat untuk peluang bisnis yang menjanjikan. 
Di Wonogiri sendiri, ikan nila adalah salah satu hasil kekayaan bahari yang melimpah. Waduk Gajah Mungkur termasuk salah satu aspek pendukung besarnya hasil tangkapan ikan nila di Wonogiri. Waduk Gajah Mungkur yang merupakan waduk terbesar kedua di Jawa Tengah ini memberikan tempat yang potensial untuk budidaya ikan nila. Pembudidayaan ikan nila ini juga didukung oleh pemerintah. Selain kelompok nelayan, pemerintah juga ikut menebarkan bibit ikan nila di Waduk Gajah Mungkur. Menurut PPID Kabupaten Wonogiri, dana APBD Kabupaten Wonogiri tahun 2024 mengalokasikan benih ikan nila sejumlah 23.000 ekor pada tahun 2024. Tak hanya itu, ikan nila juga dibudidayakan secara intensif dengan jala apung di perairan waduk. Oleh karena itu, hasil tangkapan ikan nila di Wonogiri sangat melimpah. 
Meskipun demikian, konsumsi ikan nila masih sangat minim. Menurut Badan Statistik Pusat, rata-rata konsumsi ikan nila di Wonogiri pada tahun 2024 hanya mencapai 0,020 kg perminggunya. Ini menunjukkan bahwa tingginya hasil perikanan ini tidak diikuti oleh konsumsi yang tinggi. Rendahnya minat konsumsi ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat ikan nila. Padahal ikan nila adalah salah satu makanan yang kaya akan zat besi. Menurut Kata Data, dalam 100 gram ikan nila mengandung 1,79 mg zat besi yang dapat membantu remaja mencegah anemia. Namun sayangnya masih banyak orang yang tidak menyadari akan hal itu. Kebanyakan dari mereka lebih memilih mengonsumsi makanan cepat saji yang dinilai lebih praktis dan lezat. Jika masalah ini dibiarkan, potensi ikan nila yang melimpah di Wonogiri tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, peluang peningkatan gizi masyarakat melalui konsumsi ikan nila terabaikan, dan perekonomian daerah dari sektor perikanan tidak berkembang maksimal. 
Dengan adanya permasalahan tersebut, maka diperlukan solusi untuk meningkatkan minat konsumsi ikan nila di masyarakat. Banyak penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti untuk mengoptimalkan pemanfaatan ikan nila. Salah satunya adalah penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Wiyan, S. A. P., dkk. (2023) dalam penelitiannya yang berjudul “MIGATISAY (MI GAPLEK TULANG IKAN SAYURAN) SOTO GORENG KOYA”.  Migatisay, yaitu mi berbahan dasar tulang ikan nila, telah menunjukkan potensi pemanfaatan ikan nila menjadi produk pangan yang berprotein tinggi. Namun, Migatisay masih terbatas pada bentuk mie standar, sementara tren kuliner sekarang lebih banyak menuntut variasi olahan populer. Selain itu, Migatisay hanya memanfaatkan tulang dari ikan nila, sehingga protein dan zat besinya juga masih terbatas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, perlu dilakukan pengembangan produk olahan ikan nila yang lebih bervariasi serta pemanfaatan seluruh bagian ikan nila secara optimal.
Dengan demikian kami berupaya untuk mengembangkan sebuah inovasi yang memanfaatkan ikan nila untuk menambahkan minat konsumsi terhadap ikan nila tersebut. Dalam penelitian ini kami menghadirkan inovasi berupa BOWLAK, yaitu seblak dengan bahan dasar ikan nila. Tidak hanya mengandalkan mi dengan bahan dasar tulang ikan nila, kami menginovasikan seblak dengan berbagai topping. Mulai dari sosis, bakso, maupun kerupuk. Masing-masing topping terbuat dari bahan yang sehat, dengan mengutamakan ikan nila sebagai bahan dasarnya. Selain ikan nila, kami juga menambahkan tepung gaplek dan tepung garut untuk menghasilkan topping seblak yang sehat. Sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal Wonogiri yang dikenal dengan kota gaplek, kami mengolah tepung gaplek menjadi bahan tambahan yang menyehatkan sekaligus bernilai ekonomis. Dengan pemanfaatan bahan lokal tersebut, BOWLAK memiliki keunggulan dibandingkan produk sejenis karena diolah tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga lebih aman dan alami untuk dikonsumsi. BOWLAK menjadi alternatif makanan praktis yang dapat mengurangi konsumsi junk food dan mendorong masyarakat, terutama kalangan muda, untuk lebih gemar mengonsumsi ikan yang kaya protein dan menyehatkan. Pemanfaatan bahan pangan lokal, seperti gaplek dan ikan nila yang melimpah di Wonogiri, berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Wonogiri. Dengan demikian, melalui BOWLAK, diharapkan tercipta produk siap santap yang sehat, praktis, digemari, dan memberikan manfaat bagi konsumen serta daerah penghasil bahan baku.

2.1 Keunggulan Produk

2.1.1 Keunggulan dan Perbedaan Dibandingkan Temuan Sejenis

Produk seblak sehat kami yaitu BOWLAK: Seblak Sehat, Siap Santap yang berbahan dasar ikan nila, tepung gaplek, dan tepung garut memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan seblak instan dengan seblak yang beredar di pasaran, terutama dalam aspek nutrisi, keberlanjutan bahan baku, dan potensi fungsional sebagai berikut:

  1. Produk seblak sehat BOWLAK menggunakan ikan nila sebagai bahan utama, berbeda dengan seblak kebanyakan yang hanya berisi kerupuk atau protein dari udang. Kandungan zat besi dalam ikan nila berperan penting dalam pembentukan hemoglobin sehingga dapat membantu mencegah anemia, sekaligus memberikan asupan protein yang lebih tinggi dengan kadar kolesterol yang lebih rendah dibandingkan udang.
  2. BOWLAK menghadirkan inovasi unik karena menggunakan tepung gaplek dan tepung garut sebagai bahan dasar utama. Selama ini, produk seblak instan di pasaran masih didominasi kerupuk atau cilok berbasis tepung terigu. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal khas Wonogiri yang jarang digunakan dalam olahan modern, BOWLAK menjadi produk berbeda yang tidak hanya bernilai gizi tetapi juga memiliki keunikan dibandingkan seblak lain.
  3. Pemanfaatan tepung gaplek dan tepung garut memberikan keunggulan fungsional yang mendukung pola makan sehat. Tepung gaplek kaya akan karbohidrat kompleks, serat, dan mineral penting, serta ketersediaannya melimpah dengan harga terjangkau di Wonogiri. Sementara itu, tepung garut dikenal membantu menjaga kesehatan pencernaan, termasuk meringankan maag dan diare. Kombinasi keduanya menjadikan BOWLAK sebagai pangan lokal bergizi tinggi yang mudah diakses masyarakat.
  4. BOWLAK hadir sebagai alternatif makanan instan sehat bagi remaja yang biasanya cenderung memilih jajanan cepat saji rendah gizi. Melalui pengolahan tepung gaplek dan tepung garut sebagai bahan dasar, BOWLAK sekaligus menjadi media sosialisasi bahan pangan lokal khas Wonogiri kepada generasi muda. Dengan cara ini, gaplek yang selama ini identik dengan pangan tradisional dapat diperkenalkan kembali dalam bentuk modern yang lebih menarik, sehingga meningkatkan nilai popularitas dan kebanggaan terhadap ikon pangan daerah Wonogiri.

 

Keunggulan produk seblak sehat BOWLAK dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.1.1.1 Perbandingan Komposisi Bahan Baku

No. Seblak Instan Bowlak Seblak Instan “Kylafood”
1. Ikan Nila Udang
2. Tepung Gaplek Tepung Terigu
3. Tepung Gaplek Tepung Tapioka

 

Tabel 2.1.1.2 Perbandingan Nilai Gizi Per 100 gram

No. Komponen Gizi Seblak Instan Bowlak Seblak Instan “Kylafood”
1. Karbohidrat 13,6 gram 32 gram
2. Protein 6,8 gram 2 gram
3. Formalin, PPM 0,00 -
4. Boraks Negatif -

Sumber:

•    https://mobile.fatsecret.co.id/kalori-gizi/kylafood/seblak-rempah-autentik/1-porsi
•    https://www.blibli.com/p/seblak-instan-kylafood-aroma-autentik-rempah-khas-indonesia-4-pcs/ps--OCV-70006-0022

Nama : Hanasya Zulfa Fauziah
Alamat : Jl. Tandon, Desa Pare, Kec. Selogiri, Kab. Wonogiri
No. Telepon : 088216309538